Taman rumah biasanya jadi area yang paling sering dilupakan dalam urusan perawatan, padahal elemen batu di dalamnya, seperti batu tempel, relief, patung, atau gypsum cetak, punya tantangan yang berbeda dari dinding rumah. Elemen taman langsung bersentuhan dengan tanah lembap, air siraman, dan kelembapan tanaman di sekitarnya sepanjang tahun.
Setelah bulan kemarau, sebagian besar wilayah Indonesia mulai masuk musim pancaroba, periode peralihan dari kemarau ke hujan dengan cuaca yang sulit ditebak. Pagi bisa cerah, sore tiba-tiba hujan deras. Kelembapan udara naik turun tidak menentu, dan tanah yang tadinya kering mulai menyerap air lagi secara bertahap. Kombinasi ini adalah waktu paling rawan bagi batu taman untuk mulai ditumbuhi jamur dan lumut, karena kelembapan naik sebelum pemilik rumah sempat menyiapkan perlindungan.
Pancaroba juga menyulitkan penjadwalan kerja renovasi. Tanah bisa basah kapan saja, dan pelapisan batu butuh permukaan kering total supaya hasilnya menempel sempurna. Lapisan pelindung yang baru diaplikasikan lalu terkena hujan sebelum kering sempurna berisiko tidak menempel dengan baik, bahkan perlu diulang dari awal. Karena itu, jendela terbaik untuk merenovasi taman ada di ekor musim kemarau, sebelum pancaroba benar-benar masuk dan cuaca jadi tidak bisa diprediksi.
Ada satu hal yang sering jadi kekhawatiran pemilik rumah saat melapisi batu taman: takut hasil akhirnya terlihat “dicat” atau kehilangan tekstur alami batu. Ini masalah yang wajar, terutama untuk taman yang mengandalkan kesan natural sebagai daya tarik utama. Solusinya ada pada jenis pelapis yang dipilih, bukan pada menghindari pelapisan sama sekali. Batu yang tidak pernah dilapisi justru lebih cepat rusak karena terus-menerus menyerap air dari tanah dan udara begitu pancaroba dan musim hujan tiba.
Pelapis batu AM 152 untuk hasil akhir yang natural
AM 152 dirancang untuk kebutuhan seperti ini. Berbahan dasar silicone dengan partikel yang sangat kecil, produk ini meresap jauh ke dalam pori batuan tanpa menutup permukaannya. Hasilnya, batu tetap terlihat alami, warna dan corak aslinya tidak berubah, tapi sifat water repellent membuat batuan selalu kering dan mencegah tumbuhnya jamur serta lumut saat kelembapan pancaroba mulai naik.
Produk ini cocok untuk batu alam, gypsum cetak, plaster, patung, relief, genteng, bata expose, dan produk berbahan tanah liat atau semen lainnya, membuatnya fleksibel untuk berbagai elemen taman. Aplikasinya dengan kuas hingga jenuh, dilanjutkan lapisan kedua setelah lapisan pertama kering. Sifat water repellent bekerja maksimal setelah 8 jam, dengan kering sempurna dalam 14 hari, jadi sebaiknya diselesaikan saat cuaca masih cukup stabil untuk memberi waktu kering yang cukup. Satu kemasan 2,5 liter bisa menutup 7,5 hingga 12,5 meter persegi tergantung porositas batuan.
Temukan AM 152 di toko bangunan terdekat di kota Anda. Tersedia di toko material rekanan AM di seluruh Indonesia.







































































