Kalau Anda pernah membangun atau merenovasi rumah dalam 10 tahun terakhir, kemungkinan besar tukang Anda sudah menyebut bata ringan sebagai pilihan. Material ini memang semakin umum digunakan, terutama di perumahan baru dan proyek renovasi di kota besar. Tapi banyak pemilik rumah yang belum benar-benar paham apa bedanya dengan bata merah biasa, dan kapan masing-masing lebih tepat dipakai.
Bata merah dibuat dari tanah liat yang dibakar pada suhu tinggi. Hasilnya adalah bata padat dengan berat sekitar 3 sampai 4 kilogram per buah. Bata ringan, atau yang sering disebut hebel atau AAC (Autoclaved Aerated Concrete), dibuat dari campuran pasir silika, semen, kapur, dan bahan pengembang yang menghasilkan jutaan gelembung udara kecil di dalam materialnya. Hasilnya adalah bata yang jauh lebih ringan, sekitar 600 sampai 800 gram per liter volumenya, jauh di bawah bata merah.
Perbedaan berat ini mempunyai dampak langsung pada konstruksi. Dinding dari bata ringan memberi beban lebih kecil pada struktur bangunan, yang berarti fondasi tidak perlu menanggung tekanan seberat dinding bata merah yang menjadi keuntungan signifikan untuk bangunan bertingkat, renovasi lantai atas, atau pekerjaan di lahan dengan kondisi tanah yang tidak terlalu keras. Di sisi lain, bata ringan juga lebih mudah dipotong dan dibentuk, sehingga proses pemasangan lebih cepat dibanding bata merah.
Dari sisi kerapatan, bata ringan punya keunggulan lain yaitu gelembung udara di dalamnya membuat dinding lebih baik dalam menahan panas dari luar. Ruangan yang dindingnya pakai bata ringan cenderung lebih sejuk di siang hari dibanding yang pakai bata merah, karena material bata ringan tidak menyerap dan meneruskan panas seefektif bata padat. Untuk iklim Indonesia yang panas sepanjang tahun, ini adalah keunggulan yang dapat diperhitungkan.
Satu hal yang sering terlewat adalah cara memasang bata ringan. Tidak bisa menggunakan campuran semen dan pasir biasa seperti yang dipakai untuk bata merah. Bata ringan membutuhkan perekat khusus yang disebut mortar perekat bata ringan, yang teksturnya lebih halus dan daya rekatnya jauh lebih kuat pada permukaan bata ringan yang rata. Perekat biasa tidak akan memberi ikatan yang cukup, dan dinding bisa mengalami keretakan pada sambungan antar bata dalam waktu relatif singkat.
AM 48 Perekat Bata Ringan dari AMBPI diformulasikan khusus untuk jenis bata ringan atau AAC yang umum beredar di pasaran Indonesia. Produk ini berbasis semen dengan campuran aditif yang membuat mortar lebih mudah diaplikasikan dan cepat mengeras pada suhu ruangan normal. Ketebalan lapisan perekat yang dibutuhkan hanya sekitar 2 sampai 3 milimeter per sambungan, jauh lebih tipis dari campuran semen pasir konvensional yang bisa mencapai 1 sampai 2 sentimeter. Hasilnya, penggunaan material lebih hemat dan bobot total dinding tetap ringan.
AM 48 juga memiliki daya rekat yang cukup kuat untuk menahan pergerakan kecil akibat getaran atau perubahan suhu tanpa menyebabkan retakan pada nat sambungan. Produk ini tersedia dalam kemasan 40 kg dan cukup untuk memasang sekitar 3 sampai 4 meter persegi bata ringan per sak, tergantung pada ukuran bata yang digunakan. Cocok dipakai baik oleh tukang berpengalaman maupun kontraktor yang mengerjakan proyek dengan skala lebih besar.
Temukan AM 48 Perekat Bata Ringan di Toko Bangunan Terdekat di Kota Anda. Tersedia di toko material rekanan AM di seluruh Indonesia.







































































